harga dari sebuah kepercayaan
Harga dari sebuah kepercayaan
Hari itu adalah hari di mana aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya, tatapan lembut nan sayu yang membuat aku terbalut akan cintanya. tapi di saat aku lihat tatapan nya yang berubah menjadi sebuah ancaman untuk ku, aku berusaha lari dan menghindarinya. Aku terus berlari, berlari dan berlari, hingga nafas ku terengah-engah.
Tiba-tiba bayangan ku mengingat sesosok wanita bertudung yang di kenalkan kekasih ku kala itu, senyuman wanita itu yang menyeringgai ke arah ku dengan sinis, yaa wanita itu, wanita yang telah membuat kekasih ku berubah menjadi bersikap sinis dan kasar pada ku. Aku terduduk lemah dan lesu di tepi jalan sepi itu, tiba-tiba suara sirine polisi ngejutkan ku, polisi itu dengan sigap menangkap ku. lantas aku bertanya pada diriku sendiri, sedosa ini kah aku?. kini aku hanya pasrah akan jalan tuhan pada ku, polisi itu bilang aku harus di pindahkan ke rumah sakit jiwa. tapi kenapa? aku pikir aku selama ini normal.
Hingga sebuah pernyataan seseorang menyadarkan ku, pernyataan yang membuat aku tertekun menyesal dan lemas. bahwa aku adalah seorang "PEMBUNUH" yang tega menghabisi kekasihnya sendiri karena tertangkap basah, sedang selingkuh dengan adik sepupu ku. dan kini aku hanya bisa menyesalinya di balik jeruji besi yang dingin dan tak ramah.
Hari itu adalah hari di mana aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya, tatapan lembut nan sayu yang membuat aku terbalut akan cintanya. tapi di saat aku lihat tatapan nya yang berubah menjadi sebuah ancaman untuk ku, aku berusaha lari dan menghindarinya. Aku terus berlari, berlari dan berlari, hingga nafas ku terengah-engah.
Tiba-tiba bayangan ku mengingat sesosok wanita bertudung yang di kenalkan kekasih ku kala itu, senyuman wanita itu yang menyeringgai ke arah ku dengan sinis, yaa wanita itu, wanita yang telah membuat kekasih ku berubah menjadi bersikap sinis dan kasar pada ku. Aku terduduk lemah dan lesu di tepi jalan sepi itu, tiba-tiba suara sirine polisi ngejutkan ku, polisi itu dengan sigap menangkap ku. lantas aku bertanya pada diriku sendiri, sedosa ini kah aku?. kini aku hanya pasrah akan jalan tuhan pada ku, polisi itu bilang aku harus di pindahkan ke rumah sakit jiwa. tapi kenapa? aku pikir aku selama ini normal.
Hingga sebuah pernyataan seseorang menyadarkan ku, pernyataan yang membuat aku tertekun menyesal dan lemas. bahwa aku adalah seorang "PEMBUNUH" yang tega menghabisi kekasihnya sendiri karena tertangkap basah, sedang selingkuh dengan adik sepupu ku. dan kini aku hanya bisa menyesalinya di balik jeruji besi yang dingin dan tak ramah.

Bagus idenya..
BalasHapusAda plot twistnya ternyata..whahaha
Dan untuk kisaran short story.. it's truly short.. :P
Tapi kasih masukan boleh dong.. :3
Pertama, diksi alias pilihan kata..
Misal kalimat pertama ada, Hari itu adalah hari di mana aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya
Ada dua suku kata NYA yg berdekatan disitu. Ga masalah sih, cuma jadi kurang efektif dan kurang kena aja ngedengernya.. :3
Terus, pemilihan judul. Kalau judulnya "Dia" kayaknya ga masuk deh sama ceritanya..hhe
Awalnya saya kira ini cerita teenlit.. :3
Trrus ketiga, closing. Menurut saya bagus ada plot twist nya. Tapi cara penyampaiannya kurang nonjok.. :3
Menurut saya sih kalau ada plot twist nya kita harus bikin penonton sendiri yg nebak apa yg sebenarnya terjadi, jadi saat sampai bagian plot twist mereka akan bilang ohh gitu ya ternyata.. :O
Jadi menurut saya sih gitu..hhe
Jadi ga perlu diungkap semua. Tapi bisa misalnya di ending ditulis kalimatnya, "Dan disinilah aku sekarang. Di balik jeruji besi yang dingin dan sepi. Hanya bisa menyesal tiap kali mengingat wajah kekasihku. Mengingat tatapan matanya. Tatapan mata penuh ketakutan ketika kubunuh dia setelah kupergoki sedang berseligkuh dengan sepupuku..
Hha tapi itu pendapat aja sih.. :3
Bagus kok ceritanya..hhe
Lanjutkan ya.. :P
Dan kalau sempat silahkan berkunjung ke blogku.. :)
satyaalfisyahr.blogspot.com
have a nice day..^_^
haha, makasi atah kunjungan blig dan masukannya.. lain kali saya akan lebih terampil dan membaiki cara penulisan cerpen saya..
Hapus